Tentang Aku

Senin, 06 November 2017

Bengkayang disebut Daerah 3T (Terluar, Tertinggal, Terpencil)

Bengkayang disebut Daerah 3T (Terluar, Tertinggal, Terpencil)

Miris mendengar cerita teman saya yang sedang mengikuti program SM-3T. Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru. Tapi yang saya akan saya bahas bukanlah program SM-3T, saya akan jelaskan seperti apa wajah pendidikan di tempat teman saya mengajar. Bukan rahasia umum lagi bahwa pendidikan di negara kita ini mengalami masa kritis. Jika anda pergi ke sekolah di daerah masih banyak terjadi hal yang sangat memprihatinkan. Mulai dari guru, siswa, orang tua, hingga masyarakat setempat yang seperti tidak menghargai apa itu arti pendidikan yang sebenarnya. Teman saya bercerita, suatu hari ia diharuskan membenarkan lembar jawaban siswanya. Anehnya sekolah yang ia ajar merupakan sekolah unggulan di daerah itu dengan perolehan nilai ujian tertinggi. Ini memang salah, dan teman saya pun bertanya kenapa harus seperti ini? dan jawaban yang ia dapat adalah jika mereka tidak melakukan ini maka siswanya tidak akan bisa lulus ujian. Mereka menambahkan hanya ingin membantu para siswanya agar lulus. Yang paling mengagetkan adalah para siswa mengetahui apa yang dilakukan guru mereka ini. Akibatnya para siswa menjadi kurang perduli dengan sekolah mereka, dan mereka lebih menyukai kegiatan lain selain sekolah. Suatu hari teman saya menemukan siswa sedang bermain di saat jam pelajaran, lantas teman saya menegurnya. Tapi lagi-lagi siswa tidak perduli dengan teguran itu, mereka lebih memilih untuk bekerja agar dapat uang daripada sekolah yang tidak menghasilkan uang. Yang parahnya lagi, teman saya sering kali memergoki para siswa dan siswi yang sedang berduaan di pojokan kelas beberapa jam setelah pulang jam sekolah. Teman saya pun mendapat cerita dari guru lain yang juga mengajar di sana, pernah ada siswa dan siswi kepergok oleh petugas piket sekolah saat mereka sedang bermesum ria di sekolah saat malam hari. Akibatnya kejadian siswi hamil selalu terjadi setiap tahunnya di sekolah itu. Percaya tidak percaya ini baru sebagian kecil dari wajah pendidikan di daerah, saya masih percaya bahwa di luar sana masih banyak guru dan siswa yang mempertahankan semangat dalam mengajar dan diajar. Saya hanya berharap besar atau kecil keperdulian yang kita berikan demi pendidikan Indonesia bisa bermanfaat kelak nantinya.

Sumber: http://thetanjungpuratimes.com/2017/01/03/warga-miskin-kalbar-2016-mencapai-390-320-orang/

Seperti dijelaskan dalam https://bengkayangkab.bps.go.id/Subjek/view/id/23

I. Penduduk Miskin

Konsep :
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.

Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor. 

II. Garis Kemiskinan (GK)

Konsep:
Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll)Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.Sumber Data : 
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor. 

Rumus Penghitungan :

GK = GKM + GKNM

GK      = Garis Kemiskinan 
GKM   = Garis Kemiskinan Makanan 
GKNM = Garis Kemiskinan Non Makan

Teknik penghitungan GKM
Tahap pertama adalah menentukan kelompok referensi (reference populaion) yaitu 20 persen penduduk yang berada diatas Garis Kemiskinan Sementara (GKS). Kelompok referensi ini didefinisikan sebagai penduduk kelas marginal. GKS dihitung berdasar GK periode sebelumnya yang di-inflate dengan inflasi umum (IHK). Dari penduduk referensi ini kemudian dihitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM).Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar makanan yang riil dikonsumsi penduduk referensi yang kemudian disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Patokan ini mengacu pada hasil Widyakarya Pangan dan Gizi 1978. Penyetaraan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 komoditi tersebut. Formula dasar dalam menghitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah :

Dimana :

GKMj = Gris Kemiskinan Makanan daerah j (sebelum disetarakan menjadi 2100 kilokalori).
Pjk    = Harga komoditi k di daerah j.
Qjk    = Rata-rata kuantitas komoditi k yang dikonsumsi di daerah j. 
Vjk    = Nilai pengeluaran untuk konsumsi komoditi k di daerah j. 
j        = Daerah (perkotaan atau pedesaan)

Selanjutnya GKMj tersebut disetarakan dengan 2100 kilokalori dengan mengalikan 2100 terhadap harga implisit rata-rata kalori menurut daerah j dari penduduk referensi, sehingga :


 Dimana :
Kjk = Kalori dari komoditi k di daerah j 
HKj = Harga rata-rata kalori di daerah j 


Dimana :
Fj = Kebutuhan minimum makanan di daerah j, yaitu yang menghasilkan energi setara dengan 2100 kilokalori/kapita/hari.

Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) merupakan penjumlahan nilai kebutuhan minimum dari komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan, sandang, pendidikan dsan kesehatan. Pemilihan jenis barang dan jasa non makanan mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari tahun ke tahun disesuaikan dengan perubahan pola konsumsi penduduk. Pada periode sebelum tahun 1993 terdiri dari 14 komoditi di perkotaan dan 12 komoditi di pedesaan. Sejak tahun 1998 terdiri dari 27 sub kelompok (51 jenis komoditi) di perkotaan dan 25 sub kelompok (47 jenis komoditi) di pedesaan. Nilai kebutuhan minimum perkomoditi /sub-kelompok non-makanan dihitung dengan menggunakan suatu rasio pengeluaran komoditi/sub-kelompok tersebut terhadap total pengeluaran komoditi/sub-kelompok yang tercatat dalam data Susenas modul konsumsi. Rasio tersebut dihitung dari hasil Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar 2004 (SPKKP 2004), yang dilakukan untuk mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumah tangga per komoditi non-makanan yang lebih rinci dibanding data Susenas Modul Konsumsi. Nilai kebutuhan minimum non makanan secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut :


 Dimana:
NFp = Pengeluaran minimun non-makanan atau garis kemiskinan non makanan daerah p (GKNMp).
Vi = Nilai pengeluaran per komoditi/sub-kelompok non-makanan daerah p (dari Susenas modul konsumsi).
ri = Rasio pengeluaran komoditi/sub-kelompok non-makanan menurut daerah (hasil SPPKD 2004).
i = Jenis komoditi non-makanan terpilih di daerah p.
p = Daerah (perkotaan atau pedesaan).

III. Persentase Penduduk Miskin

Konsep :
Head Count Index (HCI-P0), adalah persentase penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan (GK).

Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor. 

Rumus Penghitungan :

Dimana : 
α  = 0 
z  = garis kemiskinan. 
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi < z 
q  = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. 
n  = jumlah penduduk. 

IV. Indeks Kedalaman Kemiskinan

Konsep :
Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1), merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran pesuduk dari garis kemiskinan.

Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.

Rumus Penghitungan : 


Dimana : 
α  = 1 
z  = garis kemiskinan. 
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi < z 
q  = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. 
n  = jumlah penduduk. 

V. Indeks Keparahan Kemiskinan

Konsep :
Indeks Keparahan Kemiskinan (Proverty Severity Index-P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.

Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.

Rumus Penghitungan :

Dimana : 
α  = 2 
z  = garis kemiskinan. 
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi < z 
q  = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. 
n  = jumlah penduduk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar